MA…AKU DIMANDIIN YA…

November 26, 2009 § Leave a comment

Ide cerita ini dikirim oleh Ini Ntik Ndudh dan copas dari pak didik gunawan

Saya Tini, seorang ibu rumah tangga, menurutku kehidupan keluarga kami baik2 saja. Meskipun kami sering bertengkar, tapi setelah suamiku mulai mapan dalam pekerjaannya dan saya juga mulai bekerja sekedarnya di suatu perusahaan kecil, keluarga kami tampak lebih baik dan kehidupan ekonomi keluarga lumayan berkecukupan. Sekarang kami tidak lagi pernah bertengkar, kalau saling marah, maka suamiku akan menghindar dan pergi kekantornya bekerja tanpa henti di kantor, baru pulang ke rumah setelah suasana hati kembali normal, kemudian mandi, dan kami kembali berdamai seperti biasa. Apalagi setelah lahir buah hati kami, seorang bayi laki2 yang tampan dan gagah, maka kami menjadi semakin rukun. Ketika masih dalam masa “cuti melahirkan” aku sendiri sebenarnya bisa mengurus anakku dengan santai, Tapi setelah masa cuti saya habis, maka saya harus mulai lagi bekerja setiap harinya sampai jam 14., sementara suami selalu berangkat pagi2 sekali dan pulang selepas maghrib. Aku ga bisa meninggalkan bayiku sendirian di rumah, dan mulai saat itu kami mulai berfikir untuk mencari pembantu RT, kami mendapatkan seorang pembantu yang sangat baik namanya bibi Atun. Dia terlihat sangat sabar mengurus anak. Kehidupan keluarga kami berjalan dengan tanpa gangguan. Pagi anakku diasuh oleh pembantu, setelah aku pulang kerja, jam 2 saya langsung mengambil alih mengurusi anak pangeranku. Saya sangat mempercayakan pengurusan anakku kepada bi Atun, dia terlihat sayang terhadap anakku dan tampaknya bi Atun ini suka memberi pendidikan yang baik terhadap anakku. Komunikasi mereka berjalan dengan baik, anakku sangat familiar dengan bi Atun. Anakku bernama Roni. Setelah berjalan bbrp tahun kemudian, kami dikaruniai lagi seorang putri cantik, namanya Reni.
Pada saat lahirnya Reni, aku pindah kerja ke sebuah perusahaan yang lebih besar dan menjadi sekretaris direksi. Sejak saat itu, maka jam kerjaku menjadi bertambah dan aku hanya bisa pulang sore hari sama dengan suamiku. Tapi aku merasa santai2 saja, karena urusan rumah sudah sepenuhnya ditangani oleh bi Atun. Setiap harinya aku bisa ketemu dengan Roni Reni malam hari, kadang2 juga ayahnya pulang agak awal ikut bergabung, dan kami merasa bahagia.
Ketika Roni mulai masuk SD, aku merasakan adanya kejanggalan di perkembangan pertumbuhan Reni, umur 2 tahun dia memang pandai berceloteh, akan tetapi kemampuan motoriknya tidak berkembang, dia belum bisa miring, belum bisa tengkurap apalagi merangkak….dan tentu saja belum bisa berjalan, tidak sebagaimana anak2 lain seumur dia. Aku pernah memeriksakan ke dokter, katanya memang ada kelainan di sistem syaraf motoriknya. Dan untuk penyembuhannya diperlukan kepastian diagnosis, seperti misalnya berbagai cek kesehatan, dan juga meliputi banyak test yang membutuhkan waktu tidak sebentar. Aku menjadi masghul dan merasa tidak nyaman atas kebutuhan waktu untuk test yang lama itu. Aku berfikir bagaimana aku harus meninggalkan pekerjaan, maka setelah menimbang-nimbang, si anak ini saya bawa pulang, niatku akan ku-pikir2 dulu tentang saran dokter tadi dan akan saya bicarakan dengan suami saya, sementara dalam perjalanan pulang itu si Reni terus saja berceloteh tanya ini itu dan terlihat sangat menikmati perjalanan ke dokter itu. Di dalam gendonganku Reni sempat berceloteh : “Ma… aku pengin dimandikan mama..” Aku anggap celoteh ini wajar keluar dari seorang balita dan anak bungsu, dia pastinya manja dan kolokan ingin diperhatikan ibunya. Spontan saja aku berjanji akan memandikannya besok hari minggu pas libur. Sesampainya di rumah aku ingin urusan ini dibicarakan bersama suamiku nanti malam. Saat malam tiba, kita berunding tentang masalah itu dan suami menyarankan aku mengambil cuti dari kantor dan aku sepakat. Keesokan harinya aku mengajukan permohonan cuti kepada bosku….tapi ternyata untuk kali ini aku tidak diijinkan cuti, karena kerjaan kantor sedang naik daun, dan peranku sebagai sekretaris di kantor itu belum tergantikan oleh tenaga lain. Lagi2 aku tercenung dengan keadaan ini, segera aku telp ke suamiku dan memberitahukan penolakan bos ku itu, suamiku menyarankan supaya aku konsultasi ke dokter, minta penangguhan waktu pemeriksaan. Dokter ternyata bilang bahwa pemeriksaan itu tidak terlalu mendesak, bisa dilakukan kapan saja. Aku menjadi merasa lega dan urusan mengenai kondisi putriku ini bisa di pending untuk sementara. Hari minggu aku memenuhi janjiku memandikan Reni, aku lihat dia sangat merasa senang dan menikmatinya, matanya kulihat ber-binar2 penuh kebahagiaan dan ceria. Dia minta aku bisa memandikan dia terus setiap harinya, hal yang tidak mungkin bisa aku lakukan, karena jadwal kantor yang sangat ketat. Aku hanya bisa memandikan pada hari2 libur….ternyata menurut bi Atun, Reni ini mulai menjadi rewel dan setiap hari selalu merengek minta dimandikan ibunya, dan sering menangis karena aku selalu saja tidak bisa memenuhi permintaannya. Aku menerima hal ini sebagai bagian yang wajar2 saja mengingat anakku bungsu ini manja dan suka minta perhatian dari orang2 di sekelilingnya. Aku suruh supaya bi Atun lebih meningkatkan kesabaran dalam menangani Reni.
Dengan berjalannya waktu, kantorku semakin lama semakin berkembang maju sehingga menyeret aku pada kondisiku yang semakin sulit memikirkan RT-ku. Kadang2 di hari minggu pun aku harus bersiap diri dan melayani rekanan kantor seharian, sehingga kesempatan untuk bercengkarama dengan keluarga benar-benar semakin berkurang. Di rumahku sekarang, yang paling berperan mengurus RT ada pada bi Atun. Aku dan suamiku pada sibuk gila kerja, pulang ke rumah paling-paling hanya digunakan untuk tidur, tidak lagi terpikir bagaimana kondisi si anak2 dan tidak ada lagi komunikasi dengan mereka, kecuali sebentar ngomong dengan bi Atun memonitor situasi rumah seadanya dan mengarahkan ini itu. Setiap harinya sebelum matahari terbit, kami berdua telah ber-lumba2 bersiap diri berangkat ke kantor. Sementara bi Atun sendiri sudah jarang mengeluhkan kondisi Reni (mungkin karena maklum melihat kesibukan kami berdua), padahal ternyata sebenarnya Reni itu masih saja suka rewel dan menangis berkepanjangan minta perhatian. Pada suatu hari minggu, aku punya kesempatan libur dan ingin menebus janji2-ku sebelumnya untuk memperhatikan anak2-ku, akan tetapi Reni sepertinya ngambeg, tak mau lagi kupegang, dan dia terus2an menangis sehingga aku merasa jengkel dan tak nyaman. Setiap saat dia selalu berceloteh minta dimandikan mama, tapi asal kupegang hendak kumandikan, dia meronta2 dan menolak sambil menangis menjerit2. Sebetulnya situasi itu telah memunculkan sinyal ketidak-wajaran pada diri Reni, mengapa dia bersikap demikian, akan tetapi aku tidak menyadarinya. Aku masih bersikukuh bahwa sikapnya itu akibat karena dia sedang ngambeg, dasar anak manja.
Suatu hari aku mendapat tugas kantor untuk pergi ke luar kota beberapa hari mendampingi Bos, tentang urusan RT ini, aku sudah atur semuanya kepada bi Atun dan aku pikir setiap saat nanti aku bisa telp ke rumah memonitor kondisi rumah.
Hari ke 3 aku di luar kota, aku ditelpon bi Atun mengabarkan kalo Reni Demam, aku sarankan supaya diperiksakan ke dokter. Keesokan harinya aku dapat telpon lagi dari bi Atun, bahwa kondisi Reni semakin memburuk dan dia mondok di RS, aku diminta segera pulang. Kebetulan acaraku tinggal besok pagi dan aku besoknya bisa pulang. Aku telpon suamiku dan dia bilang dengan ringan, bahwa memang Reni mondok di RS, suamiku yang mengantar, aku diminta segera pulang. Aku janji besok aku pulang.
Sesampai di rumah aku ngrasa situasi rumah terlihat tidak seperti biasanya, sangat lengang…sepi… dan tidak ada siapa2. Maka aku bergegas menuju ke RS tempat Reni dirawat.
Disitu aku melihat Reni terbaring lemah ditunggui oleh bi Atun dan Roni, aku sangat terhenyak melihat keadannya yang ternyata sakitnya sedemikian parah. Tubuh Reni ditempeli berbagai peralatan medis pada di tubuhnya, badannya panas, di hidungnya tertancap selang oksigen dan selang untuk alat makan (Sonde), sementara di lengannya tertancap infus. Aku lihat dadanya ditempeli banyak kenop yang dihubungkan ke sebuah monitor yang memunculkan berbagai macam grafik berjalan dengan suara berirama. Aku juga melihat kateter muncul dari balik bajunya berisi cairan kekuningan. Kedua kaki dan tangannya terlihat kecil2, layu dan tak berdaya, mukanya pucat pasi dan tubuhnya panas. Kalau saja itu bukan sosok anakku, maka aku akan terkesan melihat sosok mainan boneka. Seketika itu juga aku segera tergopoh-gopoh mencari dokter untuk minta keterangan. Dokter menjelaskan bahwa kondisi Reni sebenarnya sangatlah jelek, boleh dikatakan dalam kondisi kritis. Kata dokter Reni menderita kelainan syaraf di otak yang mengakibatkan seluruh daya motoriknya tidak bekerja, bukan hanya anggota tubuh saja tapi juga reflek2 seperti kemampuan kencing, mengejan, BAB dan sejenisnya terganggu. Pikiran dan mentalnya juga terganggu dan menurut dokter ini Sebetulnya sudah terjadi agak lama dan tidak tertangani dengan semestinya. Hatiku langsung menangis mendengar kabar ini…ya Allah, sedemikian menderita anakku ini…. Aku langsung merasa bersalah telah menelantarkan anakku yang bungsu ini.
Dokter bilang bahwa kemungkinannya untuk sembuh sangatlah tipis, kecuali ada mukjizat dari Allah. Dalam kegamangan pikiranku ini aku langsung menelpon suamiku, dan mengabarkan kondisi Reni sambil menangis, suamiku juga kaget setengah tidak percaya, karena hari pertama ketika dia mengantarkan ke RS, kondisi Reni terlihat baik2 saja, maka suamiku bilang akan segera meluncur ke RS.
Sambil menunggu kedatangan suami, aku berdoa dengan se-khusyuk2nya, agar putriku ini diberi kesembuhan. Sekaligus minta ampun atas keteledoranku menelantarkan amanah yang telah diberikan Tuhan. Aku merasa bersalah dan merasa sangat menyesal, sambil meratap-ratap aku berdoa sampai keluar keringat dingin.
Akhirnya suami datang dan kami berdua berunding panjang lebar untuk mengambil langkah yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan anakku Reni. Aku sendiri juga akhirnya telah mengambil keputusan untuk mengambil cuti dari kantor, demi untuk menjaga Reni. Tapi lagi2 si Bos kantor menolak dan tidak mengijinkannya sehingga mengakibatkan aku emosi dan kalap, sambil marah2 aku mengancam akan mengundurkan diri dari kantor. Karena si Bos tetap pada pendiriannya, maka aku segera membuat surat pengunduran diri…dan akhirnya sekarang aku sudah menjadi manusia bebas untuk sepenuhnya mengurusi Reni di RS.
Di RS aku cerita ke Bi Atun tentang keputusan pengunduran diriku dari kantor, serta merta Bi Atun memelukku dengan perasaan yang tak bisa kuduga, ternyata dia merasa sangat lega mendengar keputusanku, mengingat dia tuh sebenarnya merasa sangat memelas melihat keadaan Reni yang terus2-an berceloteh minta dimandikan oleh mamanya. Aku ikut menangis jadinya, membayangkan betapa berhari-hari, berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun, anak ini sebenarnya sangat mendambakan uluran perhatian dan kasih sayang dari ibu (atau orang tuanya). Kulirik Reni yang terbaring, dari raut mukanya sudah tidak ada lagi bekas keceriaan dimukanya seperti ketika pertama kali tak mandikan dulu. Kulihat wajahnya terkesan seperti kecewa sangat (mungkin ini hanya perasaanku saja)…duuuhh anakku, ibumu telah mendzolimi kamu, ampunkan ibu ya nak….. tapi dia hanya diam saja seperti orang tidur. Beberapa hari terakhir ini acara dokter terhadap anakku sangatlah padat, mulai dari pengambilan darah, skanner otak, rongent, USG sampai echocardiography. Semua dilakukan dengan serba cepat. Anakku digledheg mondar mandir dari satu kamar ke kamar lain.
Pada hari besok paginya, kulihat anakku matanya seperti bergerak berkedip, aku langsung membisikinya :”ini ibu sayang….kamu minta apa naak?”…. aku lihat bibirnya seperti bergerak bilang dengan suara sangat lemah hampir tak terdengar : “ma aku pengin dimandiin…”…. Duuhhh…. Ya Allah ya Robbi….Aku serasa tersungkur mendengar permintaannya, hanya satu permintaan ini yang menjadi angan-angannya, dan itu telah menjadi dambaannya. Aku segera saja menjawab akan memandikannya nanti, dibibirnya seperti membentuk sedikit senyum dan aku mendengar monitor di sebelah tempat tidur anakku berbunyi lebih cepat : thit thit thit thit…..
Disaat itu aku tidak juga nyadar kalo sebenarnya anakku ini mengalami “lelaku” proses menuju kematian…..aku lihat bi Atun membisikkan kata2 Allah…Allah…. Berkali2 ke telinga anakku. Beberapa saat kemudian bunyi thit…. itu tiba-tiba berhenti dan bi Atun mengucapkan “Innalillahi wa inailaihi rojiuun….” sambil memeluk Reni dan menangis…. baru aku nyadar bahwa anakku telah meninggal. Serentak aku menjerit dan protes…hu…hu…hu…. ya Allah mengapa Tuhan benar2 memanggilmu …. mengapa aku tidak diberi kesempatan untuk menebus kesalahanku kepadanya.
Sambil menangis keras aku bermunajad : “Ya Allah, aku telah mempertaruhkan dan melepas semua karierku demi untuk menjaga anakku, mengapa Kamu tetap memanggil anakku…hu…hu…hu…. pikiranku sangat kalut dan tidak bisa menerima keadaan ini.
Di rumah seharian dan semalaman aku menangis terus tanpa henti, menyesal dan sungguh benar2 menyesal, sampai akhirnya jenazah akan dimandikan. Aku secara khusus minta agar akulah yang menuang air pertama kali dalam ritual memandikan itu. Maka dengan menguatkan hati, kuambil air segayung dengan sepenuh perasaan yang amat sangat pilu, sambil gemetaran kutuang air itu ke jasad anakku dan semua menjadi gelap, ternyata (ceritanya) belum kesampaian aku menuang air, aku sudah keburu pingsan tidak kuat menahan perasaan.
Jadilah itu niatku memandikan anakku untuk yang terakhir kalinya, tapi tetap saja tidak kesampaian … ya Allah, ampunilah hambaMu.
Sebuah penyesalan yang tiada tara……

sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=189991279617

Tagged: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading MA…AKU DIMANDIIN YA… at Webee Punya Cerita.

meta

%d bloggers like this: